Pengamat Dunia Mengatakan Negara China Tak Akan Menjadi Negara Pertama yang Mengakui Pemerintahan Taliban

Tianjin - China tidak akan memimpin atau menjadi negara terdepan yang mengakui pemerintah Taliban Afghanistan dan hanya akan mengakui Taliban jika dilakukan bersama dengan Pakistan, Rusia dan Iran. Demikian disebut seorang pengamat yang juga pakar pertimbangan kebijakan luar negeri China kepada Reuters.

Taliban mengambil alih Afghanistan pada Agustus lalu dan membentuk pemerintahan sementara pada September di mana sejumlah pejabat Taliban menduduki posisi penting dalam kabinet.

Belum ada negara yang secara resmi mengakui pemerintah Taliban walaupun Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, bertemu anggota pemerintahan sementara Taliban di Qatar pekan ini.

"Segala hal akan berbeda ketika empat negara yaitu China, Pakistan, Rusia, dan Iran bersepakat dalam hal ini. Kita tidak akan menjadi yang pertama," jelas pakar Asia Selatan di Institut China bidang Hubungan Internasional Kontemporer (CICR), Hu Shisheng, dikutip dari Al Arabiya, Kamis (28/10).

Berbicara dalam Discussion forum Beijing Xiangshan, forum keamanan yang diorganisir lembaga pemikir resmi militer tersebut untuk mempromosikan pandangan China soal keamanan, Hu memaparkan wawasan yang langka terkait kalkulasi China di Afghanistan.

Dia mengantisipasi bahwa Amerika Serikat, setelah menarik diri dari Afghanistan, ingin memperkuat kerja sama militer dengan India, dan itu dapat membuat India rentan terhadap pengambilan risiko ketika berhadapan dengan China.

China dan India mengalami ketegangan di perbatasan kedua negara belum lama ini.

Pasukan kedua negara bentrok di wilayah yang disengketakan di perbatasan Himalaya keduanya pada Juni dan masih mengalami kebuntuan.

"Pertempuran baru tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan," kata Hu.

Hu juga mengatakan ada harapan internasional bahwa Taliban akan berhenti menyebarkan militansinya dan mencegah munculnya kekacauan, yang akan berdampak pada China dan rencana pembangunan "belt and road" regionalnya.

Dia juga menyuarakan keprihatinan bahwa AS dapat mengarahkan sumber daya untuk menciptakan "gangguan" bagi China di kawasan seperti Laut Cina Selatan, Taiwan, dan semenanjung Korea.

Setelah menarik diri dari Afghanistan, AS sedang dalam pembicaraan dengan negara-negara di kawasan itu, termasuk India, untuk mendirikan pangkalan untuk operasi kontra-terorisme.

Ini juga mengkhawatirkan China.

"AS mengatakan pangkalan itu untuk memerangi teroris Afghanistan, tetapi bisa memiliki concept lain yang terkait dengan China dan Rusia," jelas Du Nongyi, wakil ketua Institut China bidang Studi Strategis Internasional, bagian penelitian kementerian luar negeri, kepada Reuters.

"Asia Tengah adalah halaman belakang Rusia. Kami tidak bisa membiarkan Amerika Serikat berpijak."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harga Peluru Seharga Roti dan Senjata Diperjual Belikan Seperti Mainan di Afghanistan

Demo Ribuan Warga Selandia Baru Menolak Aturan Lockdown dan Wajib Vaksinasi